Terkadang aku berfikir, mengapa sampai detik ini aku tidak juga berubah?
Mengapa aku selalu saja bertidak dan berkata semauku sendiri tanpa melihat efek di depan?
Mengapa aku selalu mengedepankan konsep idealisme di kehidupan?
Ya. Aku tau itu salah. Menurutmu. Menurutku tidak.
Ya. Aku tau itu tidak baik. Menurutmu. Menurutku? Kau sudah tahu jawabannya. Menurutku tidak juga.
Sampai akhirnya aku sadar.
Aku tahu apa yang orang inginkan.
Ya. Menilai.
Tugas orang lain adalah menilai kepribadian satu sama lain, seperti yang selama ini aku lakukan pada kalian semua.
Kita adalah jiwa jiwa yang sangat mudah menilai segalanya. Tanpa pandang bulu. Tanpa peduli sisi lainnya.
Baik ataupun buruk.
Buruk ataupun baik.
Aku sadar dengan sikap yang selama ini kutunjukan sudah sepantasnya dinilai buruk.
Dan aku pun lebih sadar, seandainya aku bersikap lebih baik pun orang lain pasti akan menilai buruk.
Mencari cari celah buruk dalam diri ini.
Mengorek ngorek kelakuan negatif pada jiwa ini.
Pasti. Sudah tentu.
Karena pada dasarnya, apa pun yang siapa pun lakukan, barang tentu penilaian negatif akan menjadi konsumsi publik. Best seller dari obrolan di pasaran.
Maka dari itu aku memilih untuk tetap bertahan.
Maka dari itu aku memilih untuk tidak berubah.
Ya. Aku adalah sosok idealis yang paling idealis.
Tentu. Aku adalah raga yang terkungkung sifat egoisme.
Pasti. Aku adalah pancaran jiwa paling arogan.
Brengsek. Kata orang. Kataku pun demikian.
Demikian.