Translate

Affichage des articles dont le libellé est merdeka. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est merdeka. Afficher tous les articles

lundi 8 août 2016

Arti Kemerdekaan Kita

Move on itu susah. Ya. Gua percaya itu.

Jujur gua sendiri gak nyangka akhirnya bakal jadi kegini.
Gua inget omongan lo beberapa minggu lalu.
"Gak nyangka ya hubungan kita yang dulu udah sedeket nadi, sekarang jadi kayak gak saling kenal."
Oke gua tau. Gua paham sakitnya itu. Gua tau rasa sakitnya gimana.
Enggak gua gak pura pura baik. Gua memang paham karena jauh sebelum ini, gua udah ngerasain itu.
Jauh sebelum ini, gua udah ngerasain gimana sakitnya.
Jauh sebelum lo tau rasanya.
Jauh sebelum lo ngerasain sakitnya.
Jauh sebelum ini.

Gua sendiri gak nyangka bakal berakhir kegini. Gua sendiri gak nyangka bakal kalah sama keadaan.
Kalah sama rasa kecewa.
Kalah sama rasa sakit.
Kalah sama harapan yang mati pelan pelan. Walopun rasa itu bakal tetep tinggal.

Gua sama sekali gak nyangka.
Padahal 2 tahun lalu gua berfikir ini awal yang baik.
2 tahun lalu gua berfikir ini keputusan yang terbaik.
2 tahun lalu gua ngerasa gua dan lo bisa bener bener jadi kita walopun tetep "gua dan lo".

Gua sempet berfikir dengan kita mem-proklamir-kan diri berarti kita bakal jadi lebih merdeka berdua. Kita bakal jadi lebih baik walopun rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.
Sayangnya gua lupa satu hal.
Kemerdekaan bukan cuma harus diraih, tapi juga dipertahankan.
Gua lupa kalo dulu setelah Indonesia merdeka, masi banyak perang mempertahankan kemerdekaan. Ideologi apa pun masuk mencoba merusak. Satu per satu persatuan dan kesatuan itu dibedel sampe hancur tercerai berai.

Iya, kitalah Indonesia.
Kitalah anak bawang yang sok idealis bertahan di bawah gempuran pasca kemerdekaan.
Kitalah yang senantisa berharap untuk bisa maju setara dengan mereka yang lebih dulu merdeka.
Sayangnya cuma gua yang mempertahankan kemerdekaan kita. Lo terlalu jumawa dengan kemerdekaan, terlalu gampang dipretelin ideologi baru. Pelan pelan terhasut separatis yang mau mecah belah persatuan kita.
Sementara gua susah payah mempertahankan kemerdekaan ini, bahkan gak segan untuk angkat senjata baku hantam demi menjaga keutuhan kita.
Lo disana masi bernegosiasi. Membuka pintu diplomasi dengan mereka yang jelas ingin merdeka dengan wilayah kita.
Kita dijajah pelan pelan sampe nanti yang tersisa cuma sejarah kemerdekaan kita!!!

Lo gak pernah nengok kesini. Lo gak pernah mau tau ketika gua hampir mati dibom, ditembakin sana sini.
Lo tetep negosiasi dengan liberal yang mengagungkan demokrasi.
Tapi lo lupa kalo kita sendiri menjunjung demokrasi bahkan lebih dari sekedar persamaan hak asasi.
Lo terlalu terbutakan materi. Maklum, liberal adalah akar dari kapitalis kapitalis yang kelak melahirkan kaum hedonis dari rahim kalangan borjuis.

Bukan seuruhnya salah lo yang gemar diplomasi. Mungkin salah gua terlalu cepet mem-proklamasi-kan kemerdekaan kita, sementara lo masih sibuk mencari jati diri.
Mungkin salah gua yang terlalu lemah menahan gempuran dari segala arah sampe akhirnya menyerah kalah dengan penjajah.
Mungkin salah gua yang gak sekuat dulu untuk bertahan dalam keadaan tertekan.
Jujur, berat buat gua ngadepin semuanya sendirian. Berat buat gua ngelanjutin semuanya sendirian.
Tapi gua juga gak bisa kalo harus hidup di tanah yang masih terjajah. Gua gak bisa lagi harus bertahan kalo cuma diperlakukan layaknya tahanan perang.

Gua lebih memilih menjadi primitif. Nomaden di zaman purbakala. Berpindah kesana kemari sampe dapet tempat tinggal yang nyaman dan aman. Bebas dari jajahan.
Gua harus bertahan sendirian. Gua harus pura pura biasa ngelepasin lo sebagai ibu kepala negara dari negara baru yang lo buat dengan bapak proklamasi yang pastinya juga baru.
Gua gak bisa lagi jadi kepala negara yang kekuasaannya terus di rongrong dari luar, terus dikudeta dari dalam.
Gua lebih memilih ditembakin tentara perbatasan daripada hidup sebagai warga jajahan di atas tanah kemerdekaan.
Gua lebih memilih kabur sampe nemu tanah yang bisa disinggahi lagi.
Gua lebih memilih memperkuat pertahanan sebelum siap mendirikan negara baru.
Biar lo sadar..
Sampe lo sadar..
Arti kemerdekaan kita.

(Aug 9, 2016, Bandar Lampung)

mercredi 13 mars 2013

Tertinggal Rasa

Satu rasa yang berbeda
hadir dalam bayang semu
kala aku termenung
mengenangmu di sela nafasku

Sejenak aku tertegun
oleh bias bola matamu
yang memancarkan kasihmu

Bukan indahmu yang kucari
Bukan itu...

Tapi setiap kata dan janji
urung terlontar dari lidahku
Kelu

Biarkan rasa itu
kutitipkan pada bintang
terbang bersama angin malam
hingga nanti kau lihat terang
di angkasamu
dari bumi tempatmu berpijak

Sejenak ia berkelip manja
di atas langit tempatmu bernaung
dimana cinta belum sempat
menaungi kepingan takdir kita

Melodi Rindu

Embun pagi menyapaku
memantulkan spektrum pelangi
yang menjadi bingkai kita
dalam balutan asmara

Disana terangkum warna
melukiskan keindahan cinta
ketika merah dan biru
menjadi satu dalam ungu
seperti kau dan aku
yang semakin menyatu
menggumamkan melodi rindu

Biarkan rasa ini
kutitipkan pada mentari
yang selalu setia menyinari
setiap jengkal langkahmu
dalam merangkul rindu

Dijemput Malam

Senja mulai luruh
malam pun merangkak naik
membalut bayangmu dalam benakku
yang mengukirkan sekerat pedih

Batinku berontak
ketika risauku dijemput malam
menyeretnya dari dalam dada
yang sekuat tenaga ku enyahkan

Aku tertawa saat fajar menyongsong
karena embun mengantarkanku pada siang
untuk menjaring sang mentari
yang melelehkan segumpal lukaku

Tapi aku selalu terperangkap
pada sekeping luka yang mengerak
dan mengucurkan tetesan sendu
kala lirihku dijemput malam

Teringat

Aku teringat saat itu
ketika aku menemukanmu
merunduk dalam duka
di persimpangan jalan gelap
tempat biasa aku
menantang sang malam
di antara celah hujan
Dan kau mulai merobek hatimu
karena dia...
Lalu kau kupungut
sebelum aku terluka karenanya

Nafas

Awan hitam menguir langit
ditemani deru angin
sampai hujan mengguyur jalanan gelap
menemani langkahku menujumu

Aku mencari nafas
sebagai cara terakhir untuk melangkah
walau kutahu kau bergeming

Aku mencari nafas
menanti datangnya waktuku
sampai hujan tak lagi mampu
menahan lajuku

Waktu

Aku tersengal
menyaksikan waktu berkejaran
ketika malam menjemput senja
ketika malam di kejar pagi
ditemani sisa kabut malam
yang mulai dingin mencair

Secepat itukah?
Tapi sejumput lukaku
belumlah mengering
sekepal dukaku
masih terselip
di balik gemintang

Lalu aku berjelaga
mengais puing kehancuran
dan serpihan derita
di tengah waktu yang singkat
tiga ribu enam ratus detik

Sesak
Muak

Lagi

Lagi, rembulan menertawakanku
hempaskan aku ke dasar danau
tempat kau menghujamkan jarum angkara
le dadaku yang penuh sesak
Namun, iramaku sirna
mengalun di angkasamu
yang kau tak mampu
mengejawantahkan hati
hingga bunga tersayat lagi

Keratan Tanya

Aroma bunga mengusik malamku
menyegarkan dinginnya udara malam
Akhirnya bulan keluar
dari persembunyiannya malam ini
meski sepi tanpa bintang
yang enggan menikmati hujan
Seperti aku yang menghilang
di balik keratan tanya kehidupan
yang tak di maksudkan untuk terjawab

Keruh

Langitku keruh
meneteskan butiran bening
dengan deras dan kencang
agar kau tak berlari dari gubukku
Tapi kau tetap berlari
menembus guyuran hujanku
Kau kuat seperti mereka
tetap berlari melawan petir
mencari villa untuk singgah
lalu kau tinggal pergi
walau langit keruh

Pelangiku

Pelangiku belum pudar
walau tak sedetik kau pandangi
di atas langit
di sela hujanmu
saat kemarau sirna
dan kau hanya mencari mentari
untuk keringkan kuyupmu
Pelangiku?
Biarkan saja pudar
lalu kau pergi

Esok

Esok hari kan tiba
menjelma dalam kuyup
basah karena hujan malam ini
yang menggerus candamu
menjadi serpihan-serpihan duka

Esok hari kan tiba
datang bersama terik
yang menyengat tubuhmu
dari sejuknya hujan semalam

Esok, apa yang terjadi?
Entahlah
hadapilah

Embun

Pagi tadi kulihat embun
bergulir bersama tangismu semalam
di atas rerumputan dan ilalang
lalu menjatuhkannya di atas genangan
di atas bukit tempatku menemukanmu
dan membawamu pulang
dalam dekapan angin malam
yang membekukan tulang dan darahmu
Maafkan...

dimanche 10 mars 2013

Sajak Pelangiku

Mentariku turun
lenyap di pelabuhan senja
bersama cahayamu yang luruh
dalam penantianku di ujung malam

Kau membeku?
Mati rasa?

Andai kau mampu
maknai peluh dalam batinku
Andai kau sanggup
menjaga rima cintaku

Kini mulai menepi
setelah kau pergi
entah harus kemana lagi
kutitipkan sajak-sajak pelangiku
yang semakin pudar
begitupun rindu-rinduku
yang kian usang terlarut waktu
hanyut bersama senja

Jemariku Menari

Jemariku menari
merangkai kata bersajak
rima berirama
seirama

Jemariku bernyanyi
di antara senar-senar asmara
meniti di tiap jengkal rindunya

Aku bungkam
tanpa kata terlontar
sajak-sajakku berbicara
bagai kiasan sosok jelita

Jemariku menari
merangkai rima mentariku
sampai ia tak lagi kuat
ringkih
terkulai tak berdaya

Sebuah Ilusi

Aku tak pernah meniadakan hati
walau hanya baris tanpa arti
Aku tak pernah mengungkung
meski seringkali lara merundung

Mungkin itulah retorika
antara hati yang menderik
semburatkan dua rona
yang hingga kini saling bertaut

Memilikimu hanya ilusi
sebuah ilusi dari kumpulan mimpi
yang terdengar syahdu walau fana
bagai erangan pemecah sukma
menjerit,
menjalar asa kehampaan

Pesona

Mengingat senyummu, aku tersenyum
segala keindahanmu terekam jelas
dalam memoriku yang terbatas
oleh kenangan-kenangan sepintas
oleh waktu yang beriringan
mengawal setiap jengkal cerita kita

Sayang, tidakkah kau dengar?
Hati ini teriakkan namamu
membuatku nampak bodoh

Aku tersenyum
Karena senyummu?
Bukan,
karena pesonamu

Kupu-Kupu

Kupu-kupu yang cantik
izinkan aku meminjam sayapmu
untuk terbang menemuinya
memberikannya sajak pelangi
yang semalaman kutulis untuknya

Mungkin lirik ini tak seindah sayapmu
Mungkin syair ini tak semerdu kepakanmu
tapi salahkah aku menanam cinta?

Kupu-kupu nirwana
terbangkan bait-bait ini padanya
ungkapan sederhana sang pemuja
kepada seorang jelita
yang kepadanya telah kusimpan
separuh nyawa di dalamku

Kerinduanku

Cinta
Kemana engkau selama ini?
Menjauh dari hari-hariku
Usangkah hati ini bagimu?

Sekian lama hati ini sepi
semenjak kau menghilang dari sisi
tidakkah kau inginkan pulang?
Menjemput kegelisaahan tak berujung
yang membengkak di tiap detik

Kerapuhan ini kian menjadi
bila kau tak segera kembali
menemani di pagi hari
seperti cahaya di ujung pelangi
Batin ini tak sanggup lagi memendam
sebongkah rindu tak bertepi

Biar ku titipkan pada dandelion senja
sampai sang angin berhembus
menerbangkannya perlahan
pada malam tempatmu bernaung

vendredi 1 mars 2013

Rinduku

Rinduku mulai berlabuh
di tepian malam sunyi
yang mengantarkanku padamu
pada setiap canda tawamu

Aku berjelaga
di gelap malam yang pekat
mencari dan mencari bayangmu
di antara dimensi yang tersekat

Kau tahu rinduku ini satu
hanya padamu disana
Kau tahu cintaku ini satu
hanya untukmu disana
Meski tak seindah mereka kira
ketika jarak dan waktu jadi penghalang

Bila esok pagi datang
aku tak tahu kemana lagi
menyandarkan rindu ini
melepaskan resah ini
sampai nanti kau kembali
menemaniku di ujung hari

Featured Post

L'herbe du voisin est plus verte, mais la nôtre est plus épaisse

Peut-être que ma vie est trop une blague. Parce que pour moi dans la vie, on ne peut pas être trop sérieux. Parfois, nous avons besoin d'...